Salah satu karya yang paling lantang adalah lagu tentang kerusakan hutan. Lirik lugas dan nadanya menyentuh, menjadi bentuk kritik sekaligus doa agar alam tak terus-menerus terluka.
“Kadang, saya nulis pas malam-malam. Sambil duduk, pegang gitar. Lirik itu datang sendiri, seperti dititipkan. Jadi semua mengalir apa adanya,” saat ditemui di sela waktu istirahat usai susuri desa.
Menariknya, karya-karyanya inipun kerap digunakan untuk promosi usaha kecil di kampung dari warung makan hingga layanan jasa. Ia tidak selalu dibayar, tapi tak pernah mengeluh.
“Saya senang. Lagu saya dipakai orang. Itu tandanya ada yang mendengar,” ujarnya sambil tersenyum.
Bagi Hartoyo, musik bukan jalan menuju ketenaran, melainkan napas kedua. Di tengah rutinitas militer penuh disiplin dan musik menjadi caranya mencintai negeri ini bukan dengan senjata, melainkan dengan nada.
Lagu-lagunya mulai dikenal di lingkungan rekan-rekannya. Beberapa dinyanyikan dalam acara kebersamaan, menyatukan suasana dan menggugah hati.

Meski belum memiliki studio rekaman atau akses ke industri musik, Hartoyo tetap bermimpi.
“Kalau suatu saat ada kesempatan, saya ingin semua lagu ini direkam. Siapa tahu bisa menginspirasi orang lain.”
Kisah Serka Hartoyo adalah pengingat bahwa cinta tanah air tak melulu soal komando dan strategi. Kadang hadir dalam bentuk paling sederhana lagu yang lahir dari nurani dan dikirimkan kepada bangsa sebagai pesan cinta, peringatan, dan harapan.
Tim Redaksi


