TERBARU
Memuat berita terbaru...
IKLAN
Ragam Informasi

WATHEK, Film Rakyat Wong Tegal Getarkan Panggung Nusantara Guncang IKN

×

WATHEK, Film Rakyat Wong Tegal Getarkan Panggung Nusantara Guncang IKN

Sebarkan artikel ini
IKLAN
Ukuran teks

Portal Pantura – Di sebuah dusun kecil bernama Kepunduhan, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, gema tepuk tangan tak terdengar.

Tapi dalam kepala Marjo Klengkam Sulam, sutradara keras kepala nan idealis, suaranya itu membuncah sejak malam itu

Malam di mana film karyanya, Wathek karya asli wong Tegal dan dinobatkan sebagai Juara 2 Festival Film Pendek Nasional 2025.

iklan

Tak ada karpet merah, tak ada kamera media mengejar langkahnya. Tapi ada satu panggung, satu mikrofon, dan satu piala yang kini berdiri di tengah rumah kayu miliknya.

Sebuah simbol bahwa suara dari desa akhirnya bisa mengguncang ibu kota baru negara, Ibu Kota Nusantara, Kalimantan Timur.

Wathek bukan sekadar cerita tentang Andi, pemuda desa yang nekat ingin buka warteg di IKN.

Lebih dari itu, ia adalah narasi tentang mimpi yang sering dianggap remeh dari mereka yang tinggal jauh dari pusat kuasa.

Ia adalah refleksi dari jutaan pemuda rantau, yang datang membawa restu orang tua dan pulang membawa luka.

Lucu, getir, dan menyentuh. Film Wathek karya Wing Tegal ini menyelami lapisan sosial masyarakat pinggiran dengan cara yang tidak menggurui.

Lewat dialog ringan dan adegan-adegan yang terkadang absurd, Wathek berhasil memotret kenyataan,

Bahwa perjuangan anak desa bukan hanya tentang mencari uang, tapi juga tentang menjaga harga diri dan identitas.

“Listrik sempat jeglek waktu adegan penting. Tapi ya sudah, kita tunggu nyala, lalu ambil lagi. Nggak ada istilah take dua belas, paling juga take tiga lalu  ngopi dulu.” ujar Marjo.

Film Rajyat Wathek  ini lahir bukan dari industri, melainkan dari pengabdian. Dari warga untuk warga. Dari desa untuk dunia.

1 Juni 2025, malam itu langit Kalimantan Timur dipenuhi sorot lampu pertunjukan Nusantara Cultural Festival.

Di tengah parade pesta  budaya Toraja, tarian.asal Mandar, dan musik Dayak nama Wathek disebut sebagai pemenang Juara 2 Nasional.

“Rasanya kayak nonton orang lain saja mimpi, tapi waktu nama kita disebut, ya Allah… kami saling peluk nangis semua,” ujar Sri, salah satu pemain yang juga menjual jamu di pasar pagi.

Menteri Kebudayaan RI menyerahkan langsung piala dan hadiah Rp11 juta. Tapi bagi tim produksi Wathek, uang hanyalah bonus.

Di festival itu, Wathek Film Rakyat karya Wing Tegal berdiri sejajar dengan film-film dari komunitas besar.

Seperti Afga Amboina (Ambon) sebagai Juara 1 lewat Nusaraya dari Nusantara Entertainment film Tubuh Menari Tanah Mengingat.***

 

Cahyo

Terbaru dari Cahyo