Portal Pantura, Brebes – Acara besar yang ditunggu-tunggu malah jadi polemik. Bumiayu Extravaganza dan perayaan Hari Jadi Kabupaten Brebes di wilayah Bumiayu resmi ditunda. Alasannya? Bentuk empati terhadap korban banjir.
Namun keputusan ini justru memicu “kemarahan warga”. Mereka mempertanyakan: cukupkah sekadar menunda?
Penundaan Diumumkan, Kritik Bermunculan
Panitia dan Pemkab Brebes mengumumkan penundaan pada 28 Januari 2026. Mereka menyebut langkah ini sebagai wujud kepedulian terhadap musibah banjir yang melanda Brebes selatan.
Tapi respons masyarakat tidak seperti yang diharapkan.
Sejumlah kelompok warga justru menyuarakan kritik keras. Inti keberatannya sederhana: mengapa hanya ditunda, bukan dibatalkan?
Kondisi Korban Banjir: Masih Darurat
Banjir yang melanda Brebes wilayah selatan diantaranya Adisana, Kalierang, dan Dukuhturi termasuk yang paling parah terdampak.
Dampaknya tidak main-main:
- Rumah warga terendam
- Lahan pertanian rusak
- Ancaman banjir susulan masih mengintai
Hingga awal Februari 2026, situasi belum sepenuhnya pulih. Warga masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Suara dari Lapangan: “Empati Harus Jadi Tindakan”
Hendri Yetus, juru bicara Aliansi Pemuda Adisana, menyampaikan pernyataan tegas pada 1 Februari 2026.
“Penderitaan korban tidak mengenal tanggal. Mereka butuh bantuan sekarang, bukan menunggu jadwal acara digeser,” ujarnya.
Ia mendesak pemerintah daerah mengambil langkah lebih berani. Bukan sekadar menunda, tetapi membatalkan total acara tersebut.
Alasannya logis: anggaran ratusan juta rupiah untuk perayaan bisa dialihkan untuk korban bencana.
Kemana Seharusnya Anggaran Dialihkan?
Menurut Hendri, dana acara dapat dimanfaatkan untuk beberapa hal krusial:
Bantuan langsung kepada korban yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian.
Rehabilitasi lingkungan di area terdampak banjir.
Perbaikan infrastruktur darurat seperti akses jalan dan sanitasi.
Pembangunan tanggul permanen di sepanjang Kali Keruh dan wilayah rawan lainnya.
Tim Redaksi
