“Sesungguhnya jangan merasa menjadi orang pintar sendirian karena di dunia ini ada orang-orang pintar lainnya di atas kita,” katanya.
Politisi PKS tersebut menjelaskan bahwa kebutuhan dunia kerja saat ini telah bergeser dan tidak lagi berpatokan pada tingginya angka IPK.
“Sesungguhnya selain IPK, ada hal lain yang dicari yakni integritas, berbahasa asing dan tentunya kepercayaan. Ini semua dibangun atas dasar keimanan kepada Allah SWT,” kata politisi PKS ini.
Ia mengajak seluruh wisudawan untuk mengawali langkah baru mereka dengan rasa syukur yang mendalam atas pencapaian akademik ini.
“Maka contoh yang paling tepat tentang syukur adalah dari Nabi Daud yang mensyukuri mulai dari diri dan keluarga sehingga menjadi kunci kesuksesan,” ungkapnya.
Tantangan Disrupsi Teknologi dan AI
Pandangan senada disampaikan Kepala Bagian Umum LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah, Adhrial Refaddin, S.IP., M.P.P., mengenai ketatnya persaingan global.
Ia menegaskan bahwa ijazah dan wisuda hanyalah pintu masuk menuju dinamika perkembangan zaman yang sangat cepat akibat disrupsi teknologi.
“Penguasaan teknologi saja tidak cukup untuk bersaing di masa depan. Pendidikan harus menumbuhkan karakter, empati, serta kemampuan berpikir tingkat tinggi yang tidak dapat direplikasi oleh mesin,” katanya.
Menurutnya, keterampilan nonteknis atau soft skills inilah yang menjadi pembeda utama antara potensi manusia dan keunggulan mesin.
“AI memang membawa disrupsi yang nyata, tetapi dengan intervensi yang tepat, kita bisa memastikan manfaatnya lebih besar daripada risikonya. Generasi muda harus siap menghadapi perubahan dengan sikap terbuka, kemampuan beradaptasi, serta komitmen untuk terus belajar sepanjang hayat,” katanya.

