Portal Pantura, Brebes – Universitas Peradaban Bumiayu (UPB), Kabupaten Brebes, kembali mencetak ratusan lulusan siap kerja melalui prosesi wisuda ke-11.
Sebanyak 424 mahasiswa resmi dilantik dalam perhelatan khidmat yang berlangsung di Gedung Sport Center Hartanto-Aqib pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Momen kelulusan tahun ini membawa pesan strategis agar para alumni mampu adaptif menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri bangsa.
Di tengah persaingan ketat, sejumlah lulusan berhasil mengukir prestasi akademik luar biasa dengan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mendekati sempurna.
Deretan Lulusan Terbaik UPB Brebes
Predikat lulusan terbaik diraih oleh Aenun Mukaromah dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan raihan IPK mencapai 3,98.
Sementara dari Fakultas Sains dan Teknologi, M. Rizki Risaleh mengukir prestasi membanggakan dengan mencatatkan IPK sebesar 3,89.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis juga meluluskan mahasiswi terbaiknya, Septiana Novi Rahayu, yang berhasil meraih IPK tinggi 3,93.
Prestasi serupa diukir Intan Nur Aeni dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang menuntaskan studinya dengan IPK 3,93.
IPK Bukan Satu-Satunya Kunci Sukses
Anggota DPR RI, Dr. H. Abdul Fikri Faqih, M.M., dalam orasi ilmiahnya menegaskan bahwa wisuda adalah langkah awal menuju tantangan dunia nyata.
Ia mengingatkan para alumni agar tidak cepat berpuas diri dan selalu berupaya meningkatkan kapasitas diri secara berkelanjutan.
“Sesungguhnya jangan merasa menjadi orang pintar sendirian karena di dunia ini ada orang-orang pintar lainnya di atas kita,” katanya.
Politisi PKS tersebut menjelaskan bahwa kebutuhan dunia kerja saat ini telah bergeser dan tidak lagi berpatokan pada tingginya angka IPK.
“Sesungguhnya selain IPK, ada hal lain yang dicari yakni integritas, berbahasa asing dan tentunya kepercayaan. Ini semua dibangun atas dasar keimanan kepada Allah SWT,” kata politisi PKS ini.
Ia mengajak seluruh wisudawan untuk mengawali langkah baru mereka dengan rasa syukur yang mendalam atas pencapaian akademik ini.
“Maka contoh yang paling tepat tentang syukur adalah dari Nabi Daud yang mensyukuri mulai dari diri dan keluarga sehingga menjadi kunci kesuksesan,” ungkapnya.
Tantangan Disrupsi Teknologi dan AI
Pandangan senada disampaikan Kepala Bagian Umum LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah, Adhrial Refaddin, S.IP., M.P.P., mengenai ketatnya persaingan global.
Ia menegaskan bahwa ijazah dan wisuda hanyalah pintu masuk menuju dinamika perkembangan zaman yang sangat cepat akibat disrupsi teknologi.
“Penguasaan teknologi saja tidak cukup untuk bersaing di masa depan. Pendidikan harus menumbuhkan karakter, empati, serta kemampuan berpikir tingkat tinggi yang tidak dapat direplikasi oleh mesin,” katanya.
Menurutnya, keterampilan nonteknis atau soft skills inilah yang menjadi pembeda utama antara potensi manusia dan keunggulan mesin.
“AI memang membawa disrupsi yang nyata, tetapi dengan intervensi yang tepat, kita bisa memastikan manfaatnya lebih besar daripada risikonya. Generasi muda harus siap menghadapi perubahan dengan sikap terbuka, kemampuan beradaptasi, serta komitmen untuk terus belajar sepanjang hayat,” katanya.
Ia mendorong para lulusan agar tidak pernah berhenti mengasah minat dan memperluas wawasan keilmuan mereka kapan saja.
“Jangan berhenti sampai di sini. Jika suka membaca, ambil peluang itu,” katanya di hadapan peserta wisuda.
Adhrial juga mengingatkan bahwa persaingan tenaga kerja saat ini sudah melintasi batas negara dan berskala internasional.
“Jadilah guru atau tenaga medis yang berkompetensi. Indonesia menjadi incaran investor, kita harus mampu membangun peradaban dunia,” ujarnya.***

