
Ia menilai persoalan infrastruktur di wilayahnya sudah terlalu lama berlarut-larut tanpa penyelesaian yang nyata.
Menurut Usef, kerusakan parah pada ruas jalan desa di Tambak Serang bukan lagi sekadar keluhan rutin, melainkan cerminan belum meratanya perhatian pembangunan.
“Ini bukan soal usulan baru atau keinginan sesaat. Jalan rusak di desa kami sudah bertahun-tahun terjadi. Setiap Musrenbangcam selalu diusulkan, tetapi hasilnya nyaris tidak terlihat. Masyarakat akhirnya bertanya, apakah perencanaan ini benar-benar untuk memperbaiki keadaan atau hanya menjadi agenda tahunan tanpa dampak nyata,” tegasnya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi ujian serius bagi komitmen anggaran pemerintah daerah, khususnya dalam memastikan pembangunan yang adil antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
“Jangan sampai pembangunan hanya tampak di pusat keramaian, sementara desa yang menopang produksi pangan dan ekonomi justru dibiarkan bertahan dengan infrastruktur yang memprihatinkan. Ketika jalan rusak, yang terhambat bukan hanya kendaraan, tetapi distribusi hasil panen, akses pendidikan, bahkan pelayanan kesehatan,” kata Usef.

