Portal Pantura – Di sebuah pagi yang berkabut, di antara aroma embun dan uap panas yang mengepul dari bumi, ribuan orang tumpah ruah menuju satu tempat.
Bukan untuk hiburan biasa, melainkan menyatu dalam sebuah ritual sakral yang telah berlangsung turun-temurun yakni Ruwat Bumi.
Ruwat Bumi ini hanya terjadi sekali dalam setahun, tradisi ini digelar di Desa Guci, permata tersembunyi di lereng Gunung Slamet, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Sejak Selasa (1/7/2025) hingga puncaknya pada Rabu pagi (2/7/2025),
Dan saat itu pun Desa Guci di Kabupaten Tegal berubah menjadi panggung spiritual yang menyatukan manusia, alam, dan kekuatan tak kasat mata.
Warga dari berbagai penjuru dari Guci sendiri hingga Rembul, Batumirah, dan desa-desa tetangga datang mengenakan pakaian adat.
Mereka membawa gunungan, tumpukan hasil bumi yang menjulang tinggi: padi, sayur, buah, hingga bunga. Arak-arakan ini bukan sekadar perayaan, tapi wujud syukur kepada semesta.
Puncaknya adalah momen yang paling dinanti rebutan gunungan. Saat gunungan diletakkan di pelataran utama, ribuan orang menyerbu bukan untuk berebut dengan amarah, melainkan untuk memperoleh berkah.
Dalam kepercayaan masyarakat, siapa pun yang berhasil membawa pulang sebagian dari gunungan akan dilimpahi rezeki dan dijauhkan dari marabahaya sepanjang tahun.
Namun sebelum itu, ada ritual yang paling magis: pemandian kambing kendit, hewan dengan garis putih melintang di tubuhnya, di Pancuran 13 sumber air panas yang diyakini suci.
Kambing ini dianggap sebagai penolak bala, dan proses pemandiannya merupakan pembersihan spiritual desa dari energi negatif.
Tim Redaksi


