Di hadapan alam, semua manusia yang ada setara dan sama-sama memohon keselamatan dan berkah.
“Ruwat Bumi ini bukan tontonan. Ini napas hidup kami,” ujar Dakot, sang juru kunci. Ia menegaskan, ritual ini Ruwat Bumi adalah warisan leluhur yang akan terus dijaga hingga kapan pun.
Di tengah gempuran modernisasi dan teknologi, Desa Guci Tegal mengingatkan bahwa hidup bukan hanya percepatan, tapi juga soal harmoni dengan alam, sesama, dan takdir.
Kini, meskipun kawasan wisata Guci telah berkembang pesat dan dipenuhi bangunan tinggi, Panggung Spiritual Ruwat Bumi tetap menjadi denyut nadi menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan tak terlihat.***
Tim Redaksi


