Setelah dimandikan di Pancuran 13 Taman Wisata Alam (TWA), kambing disembelih secara ritual lalu dikuburkan secara adat bentuk persembahan dari menjaga keseimbangan alam.
Yang menarik, acara ini tak hanya dihadiri masyarakat biasa. Hadir pula Bupati Tegal H. Ischak Maulana Rohman, Kapolres Tegal AKBP Bayu Prasetyo, Dandim 0712 Tegal, serta para tokoh penting lainnya.
Bupati Ischak Maulana Rohman kepada awak media menyampaikan apresiasi mendalam terhadap pelestarian budaya lokal yang terus hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi.
“Tradisi Ruwat Bumi ini bukan hanya ritual, tapi suatu bentuk kecintaan masyarakat terhadap tanah leluhur dan lingkungannya.
Ini warisan budaya yang harus kita jaga bersama, karena mengandung nilai gotong royong, spiritualitas, dan juga penghormatan terhadap alam,” ujar Bupati.
Ia menambhakan bahwa Pemerintah Kabupaten Tegal akan terus mendorong pengembangan kawasan wisata berbasis budaya,
Seperti Guci, agar dapat menjadi ikon pariwisata spiritual yang tidak hanya mengangkat ekonomi warga, tetapi juga memperkuat identitas lokal.
“Kami ingin jadikan Kawasan Wisata Guci bukan sekadar hanya destinasi wisata alam, tetapi juga sebagai pusat budaya dan spiritual Jawa Tengah
Apalagi acara seperti ini menjadi daya tarik kuat, baik wisatawan domestik maupun mancanegara,” tegasnya
Namun, demikian di tengah atmosfer sakral Panggung Spiritual di Pancuran 13, Taman Wisata Alam (TWA) Guci, semua status melebur.
Tim Redaksi


