IKLAN
Ragam Informasi

Rambang, Membuka Pusaka, Menyulam Peradaban dari Desa Danaraja Tegal

Avatar photo
×

Rambang, Membuka Pusaka, Menyulam Peradaban dari Desa Danaraja Tegal

Sebarkan artikel ini

Seorang tokoh masyarakat berkata, “Ini adalah berkah bagi masyarakat Danaraja. Bukan hanya secara spiritual, tapi juga ekonomi.

Banyak peneliti, pelajar, bahkan wisatawan datang untuk melihat langsung jejak dari peradaban ini.”

IKLAN

Namun yang lebih penting, nilai-nilai yang hidup dalam naskah itu harus diwariskan ke generasi muda. Bukan sekadar menjadi tontonan, tapi tuntunan. Karena, seperti kata sesepuh desa,

“Jangan hanya datang ke tradisinya, tapi tinggalkan jejak dalam pemahaman akan isinya.” terangnya.

Acara pembukaan kitab Rambang diwarnai dengan canda khas Tegal, guyonan para tokoh budaya dan sesepuh desa menjadi jembatan yang membuat ilmu dan hikmah terasa akrab. Sebuah petuah humor pun mengalir.

“Angger durung bisa salat neng Ka’bah, turu bareng bojone karo niat ibadah wae wis koyo salat neng Ka’bah.”

Guyon semacam ini bukan sekadar kelakar. Ia adalah bentuk kearifan lokal, cara arif dan tradisional menyampaikan pesan pesan religius dan etis, tanpa kehilangan kehangatan dan kemanusiaan.

Seorang budayawan muda dalam acara itu mengingatkan: “Jangan cuma hadir dan berfoto. Jangan jadi batok kosong. Datang, pahami, bawa pulang nilai-nilainya.”

Desa Danaraja bukan hanya saksi sejarah. Ia adalah bagian dari peradaban yang sedang diperjuangkan agar tetap hidup dan tumbuh.

Di tengah globalisasi dan modernitas yang sering meluruhkan akar budaya, tradisi membuka Kitab Rambang ini tindakan perlawanan, menjaga, membaca ulang, dan menanamkan kembali nilai-nilai luhur ke dalam diri dan generasi mendatang.

Tim Redaksi

Cahyo
Reporter Cahyo
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura
IKLAN
Cahyo

Terbaru dari Cahyo

iklan